Beberapa hari lalu saya mengganti server web untuk pengembangan proyek internal menggunakan Nginx. Untuk pemrosesan file PHP, digunakan PHP-FPM. Pilihan menggunakan Nginx karena resources komputer saya sekarang banyak digunakan untuk keperluan desktop sehari-hari. Namanya juga komputer digunakan bareng dengan istri.

Bahkan sistem operasi yang tadinya menggunakan Slackware Linux saya ganti menggunakan openSUSE. Dengan alasan kepraktisan dalam penggunaan dan administrasi. Bukan saya bilang Slackware Linux susah dan tidak praktis, hanya saja saya memikirkan istri saya yang juga menggunakan komputer ini.

Kembali ke permasalahan server web. Untuk menggunakan Nginx sebagai server web, saya harus belajar lagi konfigurasi dasar server web. Secara logika, tidak terlalu jauh dengan konfigurasi Apache2, hanya saja harus beradaptasi dengan format file konfigurasi Nginx. Untuk file konfigurasinya sendiri saya pecah menjadi beberapa file. Kalau defaultnya, file konfigurasi bawaan cukup satu file saja. Tetapi untuk kemudahan dalam merombak, terlebih kebiasan saya yang banyak menggunakan VirtualHost, saya pecah saja menjadi beberapa file.

Untuk info umum server seperti nama server, port yang digunakan, direktori root yang digunakan, maka masing-masing server dibuat pada masing-masing file. Sedangkan konfigurasi lainnya dipecah dalam file-file konfigurasi. Ilustrasinya seperti pada gambar berikut.

Selain fleksibel, saya tidak perlu berulang-ulang menulis konfigurasi server. Cukup membuat file pengaturan server, kemudian buat tautan file konfigurasi yang dibutuhkan di dalam direktori konfigurasi server tersebut. Selesai.

Sampai sekarang saya masih memakai Nginx. Kita coba bagaimana rasanya. Apakah cukup memadai untuk pengembangan web atau harus kembali ke Apache2. Saya coba dulu. Kalau ada yang sudah pernah menggunakan atau malah sekarang masih menggunakan Nginx, bisa share pengalamannya disini. Komen-komen aja gapapa, saya malah senang ada yang ikut share pengalaman disini. 🙂

Kategori: Teknologi

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: