Beberapa hari terakhir, saya mempelajari docker. Kalau boleh dibilang, saya sudah telat banget nih pake docker. Dulu memang saya ga begitu tertarik dengan docker. Apa lagi menyinggung tentang container, isolation of environment, dan lain sebagainya. Denger aja udah sangat susah sekali saudara-saudara :p .

Begitu kemarin coba docker ternyata lumayan bikin ketagihan juga. Jadi ga perlu lagi utak-atik server pengembangan. Lumayan lah, mempersingkat waktu. Tinggal nyalain docker, pssss, jadi dah server pengembangannya.

Sekarang ini masih coba-coba. Belum dipake diproyek. Kalau sudah selesai, kemungkinan paling besar adalah membuat Dashvolt pake docker. Jadi, bisa ngembangin dimana aja tanpa ribet ngurusin pengaturan server biar sama kaya di rumah.

Awal Mula Menuju Docker

Awal mula coba docker itu waktu mau nyobain Homestead dari Laravel. Yang jadi pertanyaanya, kan Homestead pakenya Vagrant nih, lah kok malah nyobain docker? Yup. Setelah saya baca-baca, Vagrant ternyata menggunakan konsep virtual machine. Kalau belum pernah denger virtual machine, lebih umumnya dikenal dengan nama VirtualBox walau sebenarnya VirtualBox itu sendiri salah satu dari sekian banyak engine virtual machine.

Waktu itu saya kepengin kembangin Dashvolt di komputer yang dipasang Elementary OS. Karena konsepnya adalah sistem operasi desktop (dan digunakan istri saya) maka saya putar otak nih ceritanya. Gimana caranya saya bisa tetep develop Dashvolt tapi istri tetep bisa pake komputer layaknya desktop. Maka ketemulah dengan Laravel Homestead.

Saya sudah coba instal Vagrant nih. Setelah dipikir-pikir, memori komputer saya cuma 4 GB. Yakin nih bisa jalanin Homestead? Jelas ga yakin lah. Oleh karena itu, saya coba cari alternatif yang lebih ringan lagi. Dari sini, saya bertemu dengan yang namanya docker alias container.

Logo docker

Saat ini, saya masih coba-coba untuk membangun web server menggunakan docker. NGINX dan PHP-FPM rencananya. Sementara masih ambil dari Docker Hub yang tinggal pake aja, belum mulai build. Ibaratnya, masih perkenalan.

File Not Found

Problem yang lagi ditangani adalah PHP-FPM belum bisa memproses file php yang dikirim oleh NGINX. Mulai otak-atik di konfigurasi docker-compose biar buka port-port yang dibutuhkan, masih belum mau. Binding volume host dan container, masih belum mau. Konfigurasi NGINX dan PHP-FPM diatur ulang agar bisa saling komunikasi, sudah bisa tapi tetap aja file not found.

Kalau ada yang punya referensi belajar docker yang bagus, bisa kirim link disini. Semacam tutorial juga boleh. Oke, saya balik dulu ke docker saya. See you next post.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan