Jika saya menyatakan agar jangan menggunakan medium.com sebagai platform blog kamu, kemungkinan akan banyak orang yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Tidak masalah, akan saya jelaskan maksud saya melalui artikel ini.

ertama-tama, jangan salah paham dulu. Sebenarnya saya sangat suka dengan medium.com. Artikel-artikel yang ditulis di medium.com memiliki kesan lebih profesional dan memang ditulis oleh orang-orang yang ahli di bidangnya. Tetapi, ada beberapa hal yang membuat saya enggan untuk memulai blog di medium.com.

Sebelum melanjutkan, perlu kamu ketahui bahwa semua yang saya tulis di sini merupakan pendapat dari pengalaman pribadi saya. Bisa saja apa yang saya alami berbeda dengan pengalaman kamu.

Karena konten adalah raja

Perlu kamu ketahui bahwa saya juga menangani SEO pada website-website perusahaan. Jadi, saya sudah terbiasa dengan idiom “konten adalah raja”. Dan saya rasa, medium.com dirancang dengan pendekatan konten adalah segala-galanya.

Mungkin bagi para penulis, pendekatan bahwa konten adalah raja merupakan hal yang sangat menyenangkan. Tetapi, bagi saya pribadi, medium.com terlalu menonjolkan konten sehingga tidak memberikan ruang bagi penulis untuk mengembangkan namanya.

“… bagi saya pribadi, medium.com terlalu menonjolkan konten sehingga tidak memberikan ruang bagi penulis untuk mengembangkan namanya”

Dalam ekosistem medium.com, saya kesulitan membedakan sumber ataupun penulis artikel yang saya baca. Karena semua yang saya baca terlihat sama saja. Tidak ada penanda yang jelas untuk membedakan antar penulis. Saya harus melihat gambar profil penulis terlebih dahulu untuk tahu siapa penulisnya.

Jika saya membagikan artikel di medium.com maka saya hanya dapat menyebutkan judulnya tanpa mengetahui penulisnya. Biasanya saja akan berkata “artikel yang judulnya xxx di medium itu bagus, coba kamu baca deh”. Berbeda dengan platform blog lainnya, biasanya saya malah lupa nama artikelnya tetapi tahu nama blog atau nama penulisnya.

Akhirnya hanya menjadi konsumsi

Karena banyaknya konten-konten yang bagus di medium.com, saya pun jadi sering mencari artikel-artikelnya. Tetapi pengalaman menjelasah artikel pada medium.com sangat berbeda dengan platform blog biasa.

Pada platform blog biasa, setelah membaca artikel yang menarik maka saya akan mencari tahu blog ini milik siapa. Dengan mengetahui profil penulisnya, saya dapat mengikuti profil media sosialnya. Saya akan bookmark blognya sebagai daftar bacaan saya. Apabila tersedia tautan RSS pada blognya, saya subscribe juga.

Tetapi hal tersebut tidak saya lakukan pada medium.com. Kemungkinan paling bagus adalah bookmark artikel yang baru saja saya baca sebagai bahan referensi saya. Ibarat kata “I don’t care who write it as long as it is written on medium”.

“I don’t care who write it as long as it is written on medium.”

Hal tersebut terjadi karena antarmuka medium.com yang bagi saya bukanlah tentang siapa penulisnya tetapi lebih kepada apa kontennya.

Karena kompetisi konten yang ketat

Medium.com merupakan tempat berkumpulnya para penulis yang memang sudah sangat bagus dalam membuat artikel. Jika saja saya membuat blog menggunakan platform medium.com, dengan kualitas yang sama, apakah para pembaca akan mengenal saya. Seperti pada pembahasan sebelumnya, blog saya hanyalah akan menjadi sekedar artikel pada medium.com.

Medium.com didesain agar selalu menampilkan artikel-artikel yang paling bagus yang ada di platformnya, tanpa peduli siapa penulisnya. Hal tersebut dikarenakan medium.com ingin agar kita tetap terus berselancar di platformnya.

Jika saya menerapkan promo pada blog saya di medium.com sama saja saya mengirimkan para pembaca saya kepada platform yang tidak dapat saya kontrol. Hal tersebut sama saja menggiring pembaca saya kepada daerah perang. Medium.com akan merekomendasikan konten-konten yang mereka anggap cocok bagi pengujungnya. Pada akhirnya, blog saya akan dilupakan.

Tanpa hubungan khusus dengan pembaca

Hal paling penting dalam menjalankan sebuah blog adalah mengembangkan brand kita.

Saya menjalankan blog ini agar dapat menyebarluaskan bahwa saya seorang yang memiliki kapabilitas di bidang yang saya geluti. Selain itu juga untuk untuk mengembangkan relasi dengan para pembaca saya.

Dari poin tersebut, saya rasa, tidak dapat tercapai jika saya menggunakan platform medium.com. Pengembangan brand dan relasi yang didapatkan akan lebih banyak diterima oleh medium.com, bukan penulis.

Kita tidak dapat merekomendasikan konten terbaik kita tetapi medium.com akan merekomendasikan konten terbaik yang dia punya. Tentu saja belum tentu konten tersebut merupakan konten yang kita buat.

Jika kita terus berlomba untuk membuat konten yang dapat bersaing di medium.com maka lama kelamaan kita akan menjadi robot pemroduksi konten belaka. Tanpa adanya hubungan khusus dengan pembaca. Tanpa bisa menujukan siapa kita.

Kesimpulan

Medium.com merupakan sebuah platform yang hebat bagi para penulis profesional. Saya akui itu. Konten yang disajikan memiliki kelasnya tersendiri. Tetapi, saya tetap tidak tergoda untuk mengambangkan blog saya di sana.

Konten yang saya buat adalah apa yang ingin saya sampaikan kepada pembaca bukan apa yang ingin pembaca dapatkan.


Tinggalkan Balasan