Seperti biasa, saya baca pointieststick.com untuk melihat perkembangan apa saja yang sedang terjadi di proyek Plasma Desktop. Yang menyita perhatian saya pertama kali untuk part 58 adalah tentang informasi Desktop Toolbox. Bisa dibaca pos https://pointieststick.com/2019/02/17/this-week-in-usability-productivity-part-58 dan cari bagian di bawah ini.

When you hide the Desktop Toolbox, an informational message tells you how to return to the configuration window without it (me: Nate Graham, KDE Plasma 5.16.0):

Agak sedikit aneh. Kenapa sebuah informasi yang dapat menjadi pertimbangan user mengaktifkan ataupun nonaktfikan sebuah fitur disembunyikan?

Apa yang saya pikirkan?

Dilihat dari screenshot, informasi tersebut hanya muncul setelah user menonaktifkan fitur “show the desktop toolbox”. Menurut saya, jika user yang memiliki rasa sedikit takut mengubah sebuah konfigurasi pasti akan membiarkan hal tersebut. Karena user akan merasa takut untuk mengubah pengaturannya tanpa mengetahui apa yang mereka ubah.

Jika kita lihat dari labelnya menyatakan “show the desktop toolbox”. Perhatikan “desktop toolbox”, itu nama yang sangat asing bagi pengguna desktop terutama bagi pengguna Plasma Desktop baru. Dan kesan yang ditimbulkan adalah seubah peralatan penting bagi desktop itu sendiri. Kalau saya yang menemukan, saya akan mencari informasi dulu apa yang terjadi jika saya menonaktifkan fitur tersebut (defaultnya aktif). Tetapi, jika info tersebut langsung tertera pada halaman tersebut, maka akan sangat membantu proses pencarian informasi tersebut.

Seandainya info tersebut selalu muncul, saya tidak akan ragu lagi menonaktifkan fitur tersebut. Paling tidak, saya sudah diberi tahu cara mengakses Desktop Toolbox tersebut jika diperlukan.

Penggunaan semacam alert yang bisa hilang untuk informasi tersebut menurut saya kurang tepat. Saya datang dari dunia website. Saya sering menggunakan boks informasi yang digunakan pada screenshot tersebut untuk notifikasi-notifikasi hasil aksi user, bukan untuk sebuah informasi bantuan pada kontrol yang menentukan apakah fitur tersebut dimatikan atau dinyalakan. Walaupun fitur tersebut tidaklah bersifat merusak sistem, tetap saja user perlu berpikir dahulu “apa yang akan ditampilkan/disembunyikan dari desktop?”.

Mungkin sebuah paragraf di bawah input akan lebih membantu user. Saya terbiasa menggunakan Bootstrap, untuk kasus input seperti hal tersebut, saya menggunakan help text. Bisa dibaca di https://getbootstrap.com/docs/4.3/components/forms/#help-text. Contohnya seperti gambar di bawah.

Jika label pada input tidak membantu, maka akan saya jelaskan pada help text tersebut sehingga user tahu apa yang akan dia perbuat tanpa meninggalkan halaman yang sedang dia hadapi.

Walau tulisan ini mungkin tidak dibaca oleh Nate Graham yang mengerjakan fitur tersebut, paling tidak dapat dijadikan catatan untuk saya sendiri. Jangan sampai terjebak dengan hal tersebut karena hidden info is bad.


1 Komentar

Hidden info is bad, part 2 – Code Monkey · 5 Mei 2019 pada 08:13

[…] Masih lanjut dengan masalah hidden info dan masih membaca website yang sama yaitu pointieststick.com. Juga masih baca pos yang sama di https://pointieststick.com/2019/02/17/this-week-in-usability-productivity-part-58. Pos ini bisa dibilang kelanjutan dari pos sebelumnya, “I think, hidden info is bad”. […]

Tinggalkan Balasan