Bring Your Own Device atau Bawa Perangkatmu Sendiri merupakan anugerah yang sangat berarti bagi karyawan seperti saya ini. Dengan membawa komputer saya sendiri, saya merasa lebih produktif dibandingkan menggunakan komputer yang saya dapatkan dari perusahaan. Karena apa? Karena saya merasa berada pada lingkungan kerja saya sendiri, dan bebas membuat lingkungan kerja saya sendiri.

Oops, saya lupa menggunakan kata “komputer”. Yang saya maksud dengan “komputer” di paragraf sebelumnya adalah “laptop” atau “notebook computer”. Saya sering keceplosan menyebut laptop dengan komputer. Bagi saya, laptop adalah sebuah komputer dengan bentuk “clamshell” yang dapat saya bawa kemana-mana. Jadi, mau namanya laptop ataupun notebook, bagi saya semua sama saja yaitu komputer :p

Closed Thinkpad X230

By Robert Kloosterhuis (https://www.flickr.com/photos/jemimus/6461586339/) [CC BY 2.0 (https://creativecommons.org/licenses/by/2.0)], via Wikimedia Commons

Kenapa BYOD?

Oke, kembali ke pembahasan Bring Your Own Device. Akhir-akhir ini saya lebih senang membawa laptop saya sendiri dibandingkan laptop yang disediakan perusahaan. Boleh dibilang, hampir tiap hari. Kebetulan saya memiliki ThinkPad X230 yang mungil sehingga enak dibawa kemana saja. Dari perusahaan juga menyediakan laptop yang sebenarnya tidak kalah dari milik saya yaitu ThinkPad T420. Hanya saja, dengan bodi yang besar membuat saya agak sedikit malas untuk memakainya. Maklum, sudah terbiasa dengan laptop kelas 12″ kalau dibawain yang 14″ berasa agak kebesaran.

Sebenarnya, untuk masalah performa ThinkPad T420 itu tidak ada masalah. Cuma, ThinkPad saya sudah terlanjur upgrade jadi berasa lebih kenceng aja. Laptop bawaan perusahaan masih menggunakan spesifikasi RAM 4 GB yang mana untuk membuka file-file spreadsheet dengan data puluhan ribu sudah jelas sedikit kewalahan. Maklum lah, itu laptop keluaran tahun 2011. Tapi masih bandel juga kok dibandingkan dengan laptop keluaran baru yang dipegang tim HRD, keok dengan hanya membuka satu file spreadsheet dengan data ga sampai seribu.

Untuk ThinkPad saya, menggunakan sistem operasi openSUSE Leap 15.0 dengan lingkungan desktop Plasma 5.14. Dengan menggunakan sistem operasi yang saya pilih sendiri, jelas saya dapat lebih produktif. Karena saya sudah menyesuaikan diri dan juga sistem operasinya sudah saya sesuaikan dengan alur kerja saya. Jadi, selain saya yang menyesuikan diri, sistem yang saya gunakan juga disesuaikan dengan kebiasaan saya. Semacam win-win-solution lah. Ini gambar desktop saya.

Bisa dilihat sendiri pada gambar, desktop saya itu simpel aja. Hanya ada top bar dan dock. Tidak ada ikon bertaburan pada area desktop. Nanti saya jelaskan mengapa saya memilih tatanan seperti gambar tersebut. Yang jelas, saya tidak bisa membuat layout kerja seperti ini pada Windows 10 yang dipasang di laptop perusahaan.

Beneran Cuma Gara-Gara Layout?

Sebenarnya bukan dari layout ini yang membuat saya lebih produktif. Krunner yang lebih responif dibandingkan start menu Windows 10 yang menjadikan saya merasa frustasi dengan laptop kantor. Kebiasaan saya adalah mengetikan aplikasi apa yang akan saya gunakan. Contohnya, ketika saya membutuhkan “notepad”, maka saya tinggal menulis “teks” atau “pengedit” atau “kate” di Krunner maupun Start menu untuk menjalankan teks editor. Sebenarnya hal tersebut dapat saya lakukan pada Windows 10, hanya saja tampilan daftar hasil pencariannya sangat lamban dibandingkan tampilan hasil dari Krunner. Itu sangat-sangat mengganggu saya.

Hal lainnya yang sangat penting bagi saya adalah kebiasaan saya yang jarang mematikan laptop. Saya jarang sekali shutdown laptop saya sendiri. Saya hampir selalu langsung menutup lid laptop saya dan langsung memasukan ke dalam tas. Dengan menutup lid, laptop saya akan secara otomatis masuk pada mode sleep. Jadi, ketika dibutuhkan kembali, saya cukup membuka lid dan laptop sudah siap digunakan. Tanpa harus menunggu waktu booting laptop. Sebenarnya, Windows 10 bisa melakukan hal tersebut tetapi terakhir kali saya menggunakan mode sleep dengan kondisi kapasitas baterai masih separuh, besoknya ketika akan digunakan baterainya sudah habis. Entah itu dari hardware-nya yang memang sudah tua atau dari sistemnya. Kalau dibilang hardware-nya, ThinkPad saya tidak jauh beda dengan ThinkPad perusahaan. Sama-sama keluaran tahun 2011-2012an.

Jadi, dengan BYOD, saya merasakan kebebasan tersendiri. Kerja di kantor seenak kerja di rumah. Mungkin kamu sekali-kali perlu coba juga?


0 Komentar

Tinggalkan Balasan